PDIKM Nan Eksotis

PDIKM Padang Panjang

Jika sekali waktu anda pernah melintasi Kota Padang Panjang, di Sumatera Barat dalam perjalanan dari Padang ke Bukittinggi. Ketika ketika baru saja memasuki Kota Padang Panjang selepas Kopel Semen Padang di Silaing Bawah, anda memalingkan pandangan ke arah kanan, maka akan terlihat puncak-puncak gonjong rumah gadang yang menjulang dilatarbelakangi bukit yang hijau. Barangkali sebagian dari anda tidak begitu perhatian dengan puncak atap rumah adat Minangkabau itu.

Tetapi tahukah anda, Rumah Gadang itu adalah realisasi dari mimpi dan niat  mulia dari beberapa putra Minangkabau untuk melestarikan kebudayaan etnisnya. Bangunan yang cuma terlihat puncak atapnya dari jalan utama Padang – Bukittinggi tersebut persisnya adalah Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau. Sebuah proyek budaya yang idealis dan mulia sekaligus objek wisata yang sungguh unik di Kota Kecil Padang Panjang.

Sesuai namanya sebagai Pusat Dokumentasi, di PDIKM bisa ditemui bermacam koleksi dan literatur tentang budaya Minangkabau dalam  berbagai format. Bagi anda yang tertarik mendalami budaya Minangkabau dan membolak-balik naskah-naskah usang sebelum perang dunia I dan II maka anda mesti mengunjungi PDKM tersebut.

SEJARAH BERDIRINYA PDIKM

Berdirinya PDIKM dilatarbelakangi oleh salah satunya adalah adanya asumsi yang mengatakan orang Minang bukanlah pengumpul dokumen yang baik, dalam arti dokumen yang kongkrit dan tertilis tertulis, karena orang Minang terbiasa dengan budaya tutur yang diturunkan dari generasi ke generasi. Pada kenyataannya memang dokumentasi tentang Minangkabau lebih banyak ditemui di luar Minangkabau, misalnya di Museum Nasional Jakarta ataupun di Museum Leiden Belanda. Berangkat dari kesadaran untuk melestarikan dan mendekatkan dokumen tentang Kebudayaan Minangkabau dengan orang Minangkabau itu sendiri, telah menggerakan beberapa orang putra Minangkabau untuk mendirikan wadah untuk menghimpun dan mendokumentasikan segala sesuatu tentang Budaya Minangkabau itu.

Adalah Bapak Bustanil Arifin SH mantan Menteri Koperasi Republik Indonesia di era Orde Baru yang tergerak hatinya untuk mendirikan sebuah lembaga non profit untuk menghimpun berbagai dokumen  dan informasi tentang kebudayaan Minangkabau. Engku Abdul Hamid yang hampir sepanjang hidupnya pengabdi pendidikan di Sumatera Barat, dimintakan perhatiannya untuk menjajaki didirikannya lembaga ini. Maka melalui Akta Notaris Rini Soemintapura SH Nomor 4 tanggal 8 Januari 1988, didirikanlah Yayasan Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (YDIKM).

Untuk pencapaian tujuannya, YDIKM mendirikan sebuah wadah yang diberi nama Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) di Padang Sarai-Silaing Bawah Kodya Padang Panjang. Sebuah gedung dengan arsitektur Rumah Gadang dibangun di atas tanah seluas 2 ha. Peletakan Batu pertama pembangunan PDIKM Padang Panjang dimulai pada tanggal 8-8-1988 dan diresmikan pemakaiannya pada tanggal 17 Desember 1990. Sejak itu telah terkumpul 3000 lebih dokumen lama tentang Minangkabau baik dalam bentuk reproduksi buku, naskah, kliping koran, foto maupun microfilm. Kebanyakan terbitan sebelum tahun 1945, sebagian diantaranya masih berbahasa Belanda dan Arab Melayu.

VISI DAN MISI PDIKM

VISI

Memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada berbagai kalangan masyarakat melakukan berbagai studi ataupun pengamatan terhadap kebudayaan Minangkabau demi terpeliharanya peranan kebudayaan Minangkabau untuk menghadapi perjalanan bangsa Indonesia masa datang.

MISI

  • Memperkokoh eksistensi kebudayaan Minangkabau di tengah-tengah kebudayaan bangsa di dunia.
  • Menyebarkan informasi potensi kebudayaan Minangkabau seluas-luasnya dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi.
  • Mengupayakan PDIKM Padang Panjang sebagai wadah terlengkap yang memiliki dokumen kebudayaan Minangkabau.
  • Memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan kebudayaan bangsa.

PENGELOLAAN PDIKM

Pada awal pendiriannya, PDIKM Padang Panjang dikelola oleh Yayasan Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabu (YDIKM) yang berkedudukan di Jakarta, dengan susunan pengurus awal adalah :

Ketua Umum (pendiri)           :   Abdul Hamid (alm)

Ketua (pendiri)                          :   H. Boestanil Arifin SH

Bendahara                                    :   Drs. Kamaloeddin Bahaoeddin

Anggota                                        :   Dr. Firdaus Bahaoeddin

Anggota                                        :   Ir. Joesoef Bahaoeddin

Anggota                                        :   Marwan SH

Anggota                                        :   Walikota Padang Panjang

Anggota                                        :   Bustanul Arifin Adam (alm).

Anggota                                        :   Ali Akbar Navis.

Sekretaris                                     :   Anas Nafis.

Sementara untuk urusan operasional sehari-hari PDIKM di Padang Panjang di kepalai oleh Ir Joesoef  Bahaoeddin dan Dr. Firdaoes Bahaoeddin sebagai wakilnya serta dibantu oleh personil pada Bidang Kepustakaan, Perlengkapan, Pertamanan dan Keamanan

Aktifitas yang dominan dilakukan pada tahap awal pendirian PDIKM adalah penambahan jumlah koleksi dan dokumen, dimana pada saat itu terkumpul lebih kurang 3000 koleksi dengan rincian :

  • 1900 jilid copy buku, majalah terbitan sebelum tahun 1942.
  • Sekitar 1500 judul buku terbitan setelah tahun 1950 sumbangan masyarakat serta setumpuk besar klipping berbagai koran dan majalah.
  • 90 album foto.
  • 500 foto dalam bingkai besar kecil.
  • 142 reel mikrofilm positif, isinya berupa naskah-naskah lama, koran-koran yang terbit sebelum PD.II dsb. (untuk membaca mikrofilm tersebut PDIKM sudah memiliki Alat baca mikrofilm 35 mm positip atau negatip (Canon Micrographics – AC100R) lengkap dengan Microprinter 90 dan alat penunjang lainnya
  • Sekitar 600 kaset yang isinya mulai dari nyanyian cerita klasik Minangkabau seperti saluang, rebab dsb sampai kepada lagu pop Minang yang sebagian besar sumbangan seorang pendeta Katholik Gerald Moussay berkebangsaan Perancis.
  • Sekumpulan replika alat musik tradionil, seperti talempong, sampelong, rebab dsb.

Disamping itu, untuk memperdalam akses pengunjung terhadap isi dokumetn yang dimiliki PDIKM, dilakukan upaya penterjemahan atas naskah-naskah lama yang sebagian berbahasa Belanda dan Arab Melayu. Sedangkan untuk upaya publikasi dan komunikasi serta ajang pengayaan informasi diterbitkan Buletin Triwulan SIMANDARANG dengan oplah 1000 eksemplar yang didistribusikan pada Perguruan Tinggi serta Peneliti dan Intelektual dalam dan luar negeri.

Seiring perjalanan waktu, atas kesepakatan Yayasan Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan  Minangkabau dengan Pemerintah Kota Padang Panjang maka pengelolaan PDIKM dialihkan dari Yayasan kepada Pemerintah Kota Padang Panjang dalam hal ini Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata. Hal ini untuk menjamin pengelolaan yang lebih baik. Baik dalam hal materi, manajemen, maupun sumber daya manusia pengelolanya. Dokumen perubahan status pengelolaan ini ditandatangani pada bulan Oktober 2006 antara Walikota Padang Panjang dan Bapak Anas Nafis mewakili Yayasan DIKM.

PDIKM DAN PARIWISATA KOTA PADANG PANJANG

Disamping sebuah proyek idealis kebudayaan, PDIKM telah memperkaya khazanah kepariwisataan kota Padang Panjang. PDIKM adalah objek dari wisata budaya, wisata edukasi dan wisata alam. Sebagai objek wisata budaya, PDIKM telah memenuhi rasa dahaga keingintahuan untuk mengenal sosok Orang Minangkabau dan kebudayaan yang menyertainya. Sebagai objek wisata edukasi PDIKM menyediakan ribuan literatur bagi peneliti dan pemburu naskah lama minangkabau dalam upaya mengenal, mendalami suku bangsa yang unik tersebut. Bagi seorang peminat literatur lama tak ada yang lebih mengairahkan daripada membolak balik buku usang yang kusam menguning dan terkadang berdebu. Bagi wisatawan yang ingin menyegarkan pikiran dari kesuntukan aktifitas sehari-hari maka berkunjung ke PDIKM sedikit banyaknya akan terbantu. Kawasan wisata yang memiliki titik sentral bangunan Rumah Gadang Minangkabau yang unik dengan segala macam tipe ukiran eksotis yang membalutnya sanggup mengundang decak kagum atas disain fenomenal arsitektur rumah gadang yang tumbuh dari kearifan lokal untuk selaras dengan alam. Rumah Gadang yang anggun di PDIKM dipadukan dengan disain landscape taman yang menarik. Taman dengan model terrasering yang dilengkapi 4 jenis pohon beringin rindang di setiap pojok taman telah memberi kesan teduh dan nyaman bagi pengunjung.

Selanjutnya, kalau dilihat letak Rumah Gadang dari arah Utara (pintu gerbang utama) dengan berbagai sarana pendukungnya seperti pertamanan, guest house, surau, rumah beduk yang dilatar belakangi pula oleh dua perbukitan yang tampak samar-samar dikejauhan, rasanya amat sulit kita melupakan betapa indahnya alam Minangkabau. Demikian pula dari atas Rumah Gadang tampak betapa semaraknya gunung Marapi  yang menjadi kebanggaan rakyat daerah ini.

Tidak salah bila dalam Encyclopaedie van Nederlandsch Indie 1918 dan juga dalam buku tuan Charles Boissevain Het Rijk van Bittertong – 1932, mengatakan: “De Padangsche Bovenlanden, eene oppervlakte beslaande van 409 vierkant geographische mijlen, behooren tot de mooiste berglanden der wereld”, maksudnya “alam pegunungan Minangkabau termasuk yang tercantik di dunia”.

“Dit is wat de Engelschen noemen een duimnagel schetsje van dit schoone bergland”, maksudnya “two thumbs up” untuk pegunungan Sumatera Barat.

Dengan Pesona yang dimilikinya Tidak disangkal lagi PDIKM  berperan menunjang kepariwisataan Sumatera Barat dan Padang Panjang khususnya. Ini terlihat dari kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara pada buku tamu PDIKM. Lebih dari itu, PDIKM telah menjadi salah satu di antara pilihan petinggi negara, para Duta Besar atau pun para tamu negara sahabat yang berkunjung ke daerah ini. Bahkan Ratu Beatrix dari Kerajaan Belanda yang pernah berkunjung ke PDIKM menganugerahi Kepala PDIKM Ir. Joesoef Bahauddin bintang “Officier in de Orde van Oranye Nassau”.

Kunjungan Dubes Belanda ke PDIKM

PENUTUP

Fenomena dan dinamika kebudayaan Minangkabau, banyak menarik perhatian para intelektual dan peneliti manca negara. Berbagai penelitian tentang kebudayaan yang mulai ada sejak “Gunung Merapi sebesar telur itik” ini, telah dilakukan berpuluh tahun yang lalu.  Namun sampai saat ini masih saja mengundang perdebatan.  Hal ini lebih disebabkan karena sulitnya mendapatkan literature penunjang yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Kesulitan ini bukan berarti sedikitnya dokumen yang ada, tetapi lebih disebabkan karena letaknya tidak diketahui pasti.

Dari 3000 lebih dokumen yang telah dihimpun YDIKM, Sebagian besar didapat dari Perpustakaan  Nasional, Jakarta. Sebagian kecil sumbangan partisipan dan bahkan ada yang dibeli di pasar loak. Masih banyak lagi yang belum sempat dicari. Intensifikasi pencarian dokumen perlu lebih ditingkatkan lagi baik pada perpustakaan dalam negeri maupun luar negeri, bahkan sesepuh-sesepuh “orang awak” baik di perantauan maupun di kampung halaman perlu dihubungi. Dokumen yang akan dihimpun tidak saja mengenai kebudayaan Minangkabau, juga berbagai dokumen hasil karya etnik Minangkabau baik berupa tulisan maupun audio visual di berbagai bidang disiplin ilmu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: