Padang Panjang Koe 25 Tahun Yang Lalu

Membicarakan daerah tempat kita dilahirkan, tumbuh dan dibesarkan memang menyenangkan apalagi jika kita tidak lagi berada di Kota tersebut. Mengingat tingkah polah kita dimasa kecil dan remaja, menghabiskan satu fase perjalanan hidup kita di kota tersebut terkadang sanggup mengobati kerinduan kita akan tanah kelahiran tersebut. Bagi saya pribadi yang tumbuh di Padang Panjang,  Kota kecil ini adalah tempat paling  nyaman  bagi saya. Memang, setiap kita pasti punya ikatan bathin yang sulit dijelaskan dengan daerah kelahiran kita.

Gunung Marapi yang legendaris…setia menjaga Padang Panjang

Berbicara tentang Kota Padang Panjang adalah berbicara tentang banyak hal,  maklum Kota ini adalah Kota yang memilki sejarah yang panjang. Dari segi usia kota ini akan memasuki usia 222 tahun  pada tahun 2012 ini. Tua sekali bukan, telah banyak generasi berganti, telah banyak kisah yang  mengharu biru terlukis disini, silih berganti fragmen sejarah terkembang di kota ini. Memang, Begitu banyak topik yang bisa kita diskusikan jika kita berbicara tentang Padang Panjang, apakah itu tentang sejarah masa lalunya, tentang iklim pendidikan yang berurat berakar selama puluhan tahun, tentang seni budaya lokalnya, atau tentang orang-orangnya  atau tokoh-tokoh yang lahir disini. Dalam konteks kekinian kita bisa saja berbicara tentang kondisi pasar Padang Panjang  terkini yang di cap centang perenang,  lalu lintas yang semrawut dengan ratusan ojek yang berseliweran setiap hari namun tetap dapat Penghargaan Tertib Lalin. Atau yang paling menarik saat ini, suasana perpolitikan yang mulai menghangat di kota dingin ini menjelang suksesi kepemimpinan tahun 2013 mendatang.

Jembatan Tinggi, salah satu Land Mark Padang Panjang Tahun 1818

Jembatan Tinggi Pasca Kemerdekaan…

Jembatan Tinggi, Gerbang Barat Padang Panjang hari ini…

Ah.. tapi saya tidak ingin menulis tentang topik yang berat dan memusingkan kepala tersebut, setelah sebelumnya saya memotret kekayaan kuliner Padang Panjang. Kali ini saya ingin bernostalgia, menengok ke masa lampau, masa sekitar 20 -25  tahun yang lalu, yaitu ketika saya dan mereka yang seangkatan saya beranjak remaja. Mari kita mencoba mengingat masa tersebut, apa hal-hal yang berkesan dalam  hati kita jika menyebut Padang Panjang.

1987, atau 25 tahun yang lalu, saya mulai akrab dengan kota ini, karena pada tahun itu saya mulai memasuki jenjang pendidikan SLTP  di SMP 1 Padang Panjang, setelah sebelumnya masa anak-anak  dan sekolah dasar dihabiskan di kampung, di pinggiran Kota Padang Panjang. Bagi saya pribadi, si anak kampung bersekolah ke kota berarti memperluas cakrawala berpikir dan pengalaman.  Di SD Kampung saya boleh berbangga sebagai pemuncak kelas selama 6 tahun, namun begitu melanjutkan pendidikan di Padang Panjang saya baru ketemu lawan-lawan tangguh, yang membuat saya lebih sering menjadi the loser dalam prestasi sekolah..he..he..  .

Sejatinya, saya tidak pernah meninggalkan Kota kecil ini, rentang waktu + 10 Tahun ketika  kuliah S1  plus Kuliah S2 selama 2 Tahun dan aktifitas lainnya  di Padang adalah masa ketika saya tidak berakrab ria dengan Padang Panjang, kalau tidak bisa dikatakan meninggalkan kota ini. Bahkan takdir memutuskan saya kembali harus menghirup udara Padang Panjang setiap hari, mengabdi sebagai PNS di pemerintah Kota Panjang Panjang mulai Tahun 2002. Jadi, memang  saya tak pernah jauh dari Kota Padang Panjang.

Namun,  Bukan berarti saya sangat mengenal kota ini seperti saya mengenal telapak tangan saya. Sebab di kota ini saya bukan siapa-siapa, saya mungkin cukup kenal  nama dan wajah banyak orang di Padang Panjang ,  namun bukan berarti mereka kenal  saya he..he.. Saya hanya  1 angka dari 54.000 jiwa dalam catatan statistik penduduk Kota Padang Panjang . By the way, mari kita luruskan kembali tema kita, dari awal saya ingin menulis tentang hal yang mengesankan tentang Padang Panjang  beberapa tahun yang lalu. Karena ini dari perspektif saya tentu saja nuansanya sangat subjektif. Bisa jadi berkesan bagi saya bukan berarti apa apa bagi anda.  Tetapi paling tidak anda yang seangkatan dengan saya dan menghabiskan masa remaja di Padang Panjang bisa mengingat kembali masa lalu.

OK..sekarang pertanyaanya, apa yang paling berkesan dan anda ingat begitu membicarakan Kota Padang Panjang ?  Masa-masa di SMP mungkin cukup berkesan bagi anda, bagi yang bersekolah di SMP 1 masih ingatkah anda sudut-sudut sekolah peninggalan Belanda tersebut. Gedung yang kokoh dengan pintu dan jendela yang lebar berlantai ubin namun awet. Dulu begitu bangganya mereka yang bisa bersekolah di SMP tersebut, pokoknya kesannya positiflah, tempat anak-anak pintar. Kita begitu menghormati bapak dan ibu guru kita di SMP 1 yang benar-benar berperan sebagai pengajar, pendidik dan “guru” dalam arti yang sebenarnya. Salam hormat untuk Bapak Anis Durin sang head master, Bapak M.Jamil, Bapak Ali Asmar, Bapak Datuk Gere yang telah mengajari kami berpikir logis dengan matematikanya, Bapak Buchari Muslim yang religius,  Bapak Mansyurdin yang begitu bersemangat mengajarkan sejarah dunia, Bapak Basri Samad yang sering membawa kita berenang ke Lubuk Mata Kucing. Ibu Yul yang dulu kita sebut Guru “killer” dan ternyata juga  Ibunda seorang Camat Teladan di propinsi ini, Ibu Nemi Maharni yang lembut, Ibu hasnidawati yang “kamek”, dan belasan guru kita lainnya di SMP 1.

Apa lagi yang anda ingat di SMP 1, tempat jajannya kah ? masih ingat Mak Pa’i yang suka bercanda dengan anak-anak dengan kedai kecilnya di trotoar depan, diseberang Gereja.  Atau Buk De Jawa, yang berjualan di dalam Komplek.  Pernah nggak anda jajan dengan cara yang unik di Warung yang terletak di jalan yang memisahkan gedung SMP I  bawah dan atas ( SMP 5 sekarang), saya masih ingat kalau jajan dari halaman sekolah, makanan yang kita beli dilemparkan ke kita oleh si uninya warung,  duitnya juga kita lempar balik  karena disisi jalan berbatasan dengan pagar halaman yang cukup  ada selokan besar yang tidak bisa di langkahi.. ingat nggak ?

Tempat bermain ABG sepulang sekolah waktu itu, paling-paling hanya beberapa tempat permainan Video Game alias Ding Dong di terminal Kantin . Permainan Jadul yang terkenal waktu itu kalau nggak salah Mario Bros..Waktu itu terminal kantin masih sangat ramai, Bus AKDP dan AKAP masih nongkrong disana. Ditambah lagi truk-truk besar bercampur dengan Angkutan Pedesaan. Kala itu terminal kantin terlihat sibuk setiap hari. Yah..saya pikir waktu tidak banyak alternatif hiburan ABG, walaupun waktu itu Bioskop Karya dan Bioskop Djaja masih sangat berjaya, tapi tentu bukan tempatnya anak ABG apalagi SMP.(Masih ingat Si Taragon…si pengidap Skyzoprenia, yang selalu “berpidato” di halaman Bioskop Karya).

Saya masih ingat pertama kali masuk ke Bioskop Karya, waktu itu masih duduk di kelas 5 SD, sekolah kami dianjurkan (atau diperintahkan ?) oleh Kandep Pendidikan Kecamatan membawa murid mulai kelas 3 s/d kelas 6 untuk menonton Film Nasional G 30 S / PKI . Maka meluap-luaplah kegembiraan kami membayangkan nonton di bioskop waktu itu. Saya ingat betul disela-sela keriuhan ratusan murid SD didalam ruang bioskop yang pengap itu, saya takjub melihat layar bioskop yang sedemikian lebar ( maklum anak kampung..! ). Duduk tenang di kursi rotan yang sama sekali tidak nyaman di bioskop tua itu saya mencoba menyatukan konsentrasi dan pikiran saya memahami jalannya cerita Film G 30 S PKI yang berdurasi panjang itu. Namun apa daya, alam pikir bocah kelas 5 SD  ini tidak mampu mencerna kisah konspirasi politik kelas tinggi tersebut.  Belakangan, saya bertanya tanya apa maunya pemerintah Orde Baru saat itu “menghalau” bocah-bocah ingusan masuk bioskop untuk menonton film yang notabene tidak mereka pahami itu. Hal yang paling saya ingat (bahkan sampai saat ini ) dari peristiwa “nonton bareng bocah” itu adalah  adegan rapat permufakatan jahat  gembong PKI seperti Syam Kammaruzaman, DN Aidit merancang isu dewan Jendral yang merencanakan kudeta.( Saya baru paham isi adegan ini ketika menonton film G 30 S PKI di kemudian hari ketika pikiran mulai bisa mencerna).  Yang paling saya ingat sampai detik ini, para pemain  di  adegan itu  di zoom berkali –kali. bahkan adegan mulut Syam Kammaruzaman  dengan asap rokok yang  tak berhenti mengepul di  zoom berulang-ulang memenuhi  layar bioskop masih tergambar jelas dalam memori saya.. Adegan lain yang tanpa sadar kami sepakati sesama bocah sebagai bagian terfavorit adalah adegan tembak-tembakan PKI dengan Pasukan RPKAD yang dipimpin Kol. Sarwo Eddhie Wibowo. Besoknya disekolah kampung, pembicaraan para bocah sontak didominasi pembahasan adegan perang RPKAD dengan PKI dari berbagai sisi dengan tambahan bumbu disana sini, tak lupa tentunya membahas sosok Pak Sarwo Eddie yang “ Mendadak Hero” dalam alam pikiran anak SD.

Bioskop Karya (Foto by : Visualreteks.wordpress)

Stasiun Kereta Api Padang Panjang Tahun 1890

Tempat yang sama 120 Tahun kemudian…

Kembali ke pokok cerita, Hiburan alternatif anak-anak Padang Panjang di akhir 80 an  paling-paling berenang ke Lubuk Mata kucing pada hari libur, ada juga yang killing the time di akhir pekan dengan bertualang naik kereta api batu bara dari stasiun Padang Panjang ke  stasiun Batu Taba. Atau yang paling sederhana paling nongkrong diseputar pasar.. Maklum, zaman itu belum ada Warnet, Playstation tempat menghabiskan waktu.. yang punya motor juga tidak seberapa, sehingga tidak ada  remaja yang ugal-ugalan di jalan raya.  Oh iya, baru ingat…satu lagi tempat nongkrong ABG waktu itu, yaitu di Taman Bacaan, paling ramai di TB Harmonis yang berlokasi di Toko Fajar Harapan seberang Sate Syukur sekarang. Bacaan kita waktu itu kebanyakan komik yang terkadang mampu meletupkan semangat kita menjadi seorang Super Hero he..he.

Simpang PDAM awal abad ini..

Persimpangan Lalu Merah PDAM beberapa puluh tahun yang lalu

Padang Panjang hari ini, mulai ramai..

Wajah Simpang PDAM terkini…

Jangan lupa, momen acara pacu kuda merupakan salah satu hiburan wajib kita kala itu, bahkan sampai sekarang iven alek nagari satu tahunan ini tetap mempunyai daya tarik tersendiri sebagai sarana hiburan masyarakat Padang Panjang. Acara Pacu Kuda di Gelanggang Bancah Laweh merupakan momen yang ditunggu-tunggu warga Padang Panjang dan daerah sekitarnya. Iven yang biasanya dilaksanakan 2 hari dan selalu di hari Minggu dan Senin itu menjadi ajang hiburan murah meriah. Bagi anak-anak atau remaja  tanggung, yang paling menantang pada acara pacuan kuda ini adalah mencari-cari celah menyelinap mengelabui petugas piket demi sebuah tontonan gratis. Yang tak kalah menarik adalah melihat Saudara dari kampung sekitar seperti Singgalang, Paninjauan, Batipuh, dll yang tumplek blek membawa anak bini seperinduan ke arena pacu kuda. Dengan pakaian terbaik layaknya hari lebaran mereka benar-benar merpersiapkan diri untuk tontonan murah meriah ini, tak jarang mereka sampai membawa bekal makanan dan menggelar tikar di sekitar arena pacuan.. Ah. Inilah salah satu bagian paling indah terlahir sebagai Ras Melayu. Kita sangat mementingkan momen-momen yang akan memperkuat hubungan kekerabatan kita.

Dari zaman “saisuak” sampai sekarang, acara pacuan kuda di Bancah laweh tetap jadi favorit masyarakat

Bagaimana dengan penampilan anak SMP Padang Panjang akhir tahun 80an ? sama dengan trend ABG lain waktu itu, anak SMP yang cowok masih pake celana pendek biru. Saya ingat betul waktu itu ada trend melipat ujung celana kedalam, sehingga celana pendek menjadi makin pendek. Bahkan ada kawan yang melipat sampai hampir ke pangkal paha… Konsekwensi dari bercelana pendek adalah pasrah dengan kondisi kaki. Yang berkaki tegap, proporsional bolehlah berbangga diri. Nah..yang berkaki kurus kayak kaki belalang apalagi diperparah hiasan koin hitam bekas tukak atau kurap dimasa kecil, yang mesti pasrah. Mau protes sama siapa, pemerintah saat itu belum terpikir menyuruh remaja yang mulai akil baligh itu untuk menutup aurat dengan sempurna.

Kalau anak perempuan lain lagi ceritanya. Waktu itu kebiasaan memakai jilbab belum memasyarakat dan juga tak ada kewajiban dari pihak sekolah seperti sekarang.  Bahkan sampai saya tamat SMA  siswi non jilbab masih labih banyak daripada yang berjilbab.  Jadi berbanggalah para remaja putri memamerkan mahkotanya bagi yang memang berambut indah, lurus, dan berkilau bak iklan shampoo . Namun, yang punya rambut kriwil-kriwil bin kusut, ditambah lagi kering memerah terpanggang matahari plus hiasan telur kutu…musti melipatgandakan pedenya kesekolah… .  Rok untuk anak SMP waktu itu juga masih pendek, sehingga membikin nyaman mata remaja jolong gadang itu menikmati pemandangan betis-betis ramping temannya. Untuk sepatu, sewaktu di SMP yang ngetrend itu sepatu merk Doc Martens, yang terinspirasi dari sepatu Boys Band tenar saat itu New Kids On The Block. Saya juga berangan-angan punya sepatu semacam itu waktu itu… namun apa daya, Sepatu Doc Mart cuma sebatas angan, mau gimana lagi ‘Amak’ dan ‘Abak’ tak punya cukup duit untuk membelikan sepatu yang lumayan mahal saat itu, walaupun yang KW 16 sekalipun.

Secara umum mode berpakaian remaja, mungkin pada saat itu sudah sangat trendi,  Pakai Kaus oblong atau yang berkrah, yang paling membanggakan jika bermerk CF alias Country Fiesta atau yang ada sablon nama grup musik. Bawahannya Jeans, yang paling keren bermerk Tira (dari nama pabriknya Tiga Raksa he..he nggak ada yang tahu khan ?) atau Hammer. Sendalnya paling OK Neckerman kulit atau Ferradini. He..he..sekarang jarang ABG pakai sandal kulit. Dengan “sapatagak” atau sepaket busana itu pedelah ABG Padang Panjang bergaya, yang cowok ditambah dengan tampilan rambut berjambul ala Lupus.  Masih Ingatkan caranya membuatnya.. Sisir lurus kebelakang lalu pangkal rambut yang diujung dahi ditarik dengan 3 jari tengah, jadi dah.. bagi  berambut lurus, agak susah membentuk jambulnya, sebagai solusi, seonggok rambut yang didepan digosok-gosok sampai kusut supaya ketika ditarik membentuk jambul. Istilah rambuk yang seprti itu waktu itu adalah “ditumih”

“Ha..lah batumih lo rambuik ang !” komentar yang biasa kita dengar  dari seorang remaja pada temannya.

Namun, setrendy dan sekeren apapun tampilan tahun 80an itu, kalau kita ingat sekarang masih tetap terasa culun.  Saya masih ingat, waktu tamat SMP menjemput Ijazah kesekolah berpakaian bebas.  Waktu itu saya pakai sepatu anak sekolahan biasa dengan celana panjang berbahan kain/dasar plus kaos oblong bermotif garis-garis seperti pakaian Madura atau motif narapidana di karikatur majalah, dan parahnya berwarna Pink….bayangkan ! Pink..ditambah lagi tulisan ISABELLA  dengan huruf kapital besar-besar berwarna warni di dadanya. Namun, Tak secuilpun dihati saya, merasa culun, norak dan sebagainya. Malahan saya pede, merasa hebat punya kaos tulisannya Isabella, Judul lagu yang sedang trends oleh Amy Search saat itu. Sekarang jika saya mengingat penampilan saat itu…alamaak… langsung berdiri bulu ketiak..eh bulu kuduk saya, betapa noraknya si anak kampung ini…Bagi ABG sekarang, mungkin tanpa ampun  saya akan langsung diberi label (meminjam istilah mereka) KAMSEUPAY nomor  wahid  !!

Suasana di SMA lain lagi ceritanya, berkat kegigihan walaupun tertatih-tatih saya bisa juga meraih nilai yang mencukupi untuk masuk Sekolah Menengah Atas Negeri yang bergengsi waktu itu pada Tahun Ajaran 1990/1991. Namanya memang cuma SMA Negeri, karena waktu itu SMAN memang semata wayang di Padang Panjang, tidak ada SMA 2 atau SMA 3 nya. Bagi yang nilainya Ijazah dan NEM nya dibawah standar namun keukeuh mau ke SMA juga terpaksa masuk ke SMA Swasta, saat itu SMA Swasta yang ternama yaitu SMA Sore di Bancah Laweh.  Miliknya Alm Bapak M.Syarif. Alternatif  SLTA lain adalah STM Karya dan SMEA. Bagi yang  bersekolah di SMA Negeri tahun 90an awal tentu masih ingat sekolah di dekat simpang Hasiba itu (SMK 1 sekarang). Waktu itu SMA  Negeri  di Pimpin  Kepsek Bpk. Syukur Helmi, dengan wakil Bapak M.Yamin yang masih aktif sampai sekarang dan Bapak Persalide. Tentu Anda juga masih ingat dengan Bapak Datuk Husin yang galak. Atau Ibu Nurjani, dan beberapa belas orang guru lain ( saya mencoba mengingat satu persatu nama mereka tapi tetap blank..)    Tak bisa dipungkiri masa SMA memang masa penuh kenangan, setiap detik waktunya penuh makna.. Disitu kita mencoba mulai secara serius memenuhi kebutuhan kita sebagai makhluk sosial yaitu aktualisasi diri.

Beragam cara ditempuh untuk mengaktualisasikan dan menunjukan eksistensi kita, ada yang aktif bergiat di OSIS, di Struktur Pimpinan Kelas, Kegiatan Ekstrakurikuler, ada juga yang memilih pencapaian prestasi sebagai aktualisasi diri, yang manajemen sikap mental dan prilaku sosialnya agak meleset cendrung menjadi si bandel, si bengal, pembangkang, tukang cabut. Toh..Itu juga wujud menunjukan eksistensi juga khan. Herannya, menjadi si bengal justru jalan pintas untuk menjadi populer di sekolah.  Yang susah orang seperti saya, yang berkarakter adem ayem, ndlohome istilahnya KH Zainuddin MZ, rasanya aktualisasi diri saya di SMA jalan di tempat.. he..he..Gimana tidak, berorganisasi malas, ekstrakurikuler tidak berminat, , mau jadi si bengal tidak punya tampang dan keberanian,  otak pas-pasan..eits..tapi nggak juga sih, jelek-jelek begini dipercaya guru juga untuk masuk jurusan IPA (A2 atau Biologi) yang cukup bergengsi waktu itu. Namun, sayanya saja yang menolak, lebih memilih Jurusan Ilmu Sosial  A3 sampai-sampai saya diomeli Wali kelas I.

“Sudah dikasih Jurusan yang bagus malah menolak, orang berebut mau masuk IPA kamu malah memilih IPS” demikian Wali Kelas saya bersungut-sungut waktu Itu.

Yah..mau gimana lagi ibuk…saya lebih menikmati membaca kisah heroik dan sejarah masa lampau, saya lebih terkesan dengan Kisah Hidup Manusia yang mampu merubah dunia, saya lebih tertarik memikirkan peradaban masa lampau dari pada dipusingkan rumus-rumus kimia dan fisika itu. Cita-cita saya sewaktu masuk SMA mau jadi Arkeolog lho buk..he..he..

Bicara Jurusan SMA..Sistim Penjurusan di SMA Waktu itu memang seperti itu. penentuannya pada saat kenaikan kelas ke kelas II. Lucunya, kita sebagai siswa tidak pernah di konfirmasi tentang penjurusan itu, tahu-tahu dirapor kenaikan kelas tercantum “Naik ke Kelas II, Jurusan A1 (Fisika) A2 (Biologi), dst”  Patokannya saya kira cuma catatan prestasi belajar selama kelas 1 dan mungkin sedikit rekomendasi dari Guru BP dari potret minat bakat dan kemampuan yang tergambar dari kuisioner yang dibuat guru BP tersebut. Gimana jadinya dengan orang seperti saya, minat saya kuat ke Ilmu sosial tapi disuruh masuk IPA, atau ada yang karena kekeliuan penilaian, siswa yang tidak layak masuk IPA dari segi kemampuan eksakta  tapi dimasukan ke jurusan IPA, Pening lah anak itu…tak kuat otaknya melihat dan mengolah rumus-rumus keriting itu.

Satu lagi yang menjadi catatan saya tentang penjurusan SMA di tahun 90an adalah, terbentuknya gap diantara siswa. Penjurusan yang terlalu rinci tersebut memunculkan strata-strata di lingkungan Sekolah.  Kelompok Siswa jurusan A1 yang populer disebut “Anak Fisik” dianggap sebagai kelompok strata teratas dan cendrung dianggap ekslusif, kumpulan anak berotak encer, memang kebanyakan mereka bertampang kutu buku, adem ayem, kerjaannya diskusi sesama mereka,  kacamata tebal dengan jidat lebar he..he.. peringkat  kedua adalah Kelompok Siswa Jurusan A2 atau kelompok “Anak Bio” dalam pergaulan sekolah mereka cendrung netral, tidak bermasalah. Bisa membaur ke kelompok lain. Nah kelompok  Jurusan Sosial  alias “Anak Sos” di level ketiga adalah yang sebenarnya mewarnai sekolah karena kelompok ini jumlahnya paling banyak . tipikalnya kelompok anak sos adalah  paling heboh dalam segala hal. Dari segi gengsi mereka agak dibawah, mereka dicap kelompok anak dengan kemampuan intelektual pas-pasan, pola belajarnya standar. Memamng banyak juga anak Sos yang berpola belajar serius seperti anak IPA namun apa daya, otak tak bisa  kompromi mengakrabi rumus-rumus keriting fisika dan kimia.  Di level terakhir adalagi Kelompok Siswa Jurusan Budaya (A4) , Tapi diwaktu saya naik kelas II jurusan ini sudah tak ada lagi di SMA Negeri Padang Panjang. Tahun-tahun sebelumnya pernah ada, Konon mereka yang ditempatkan di jurusan budaya itu kebanyakan  si raja bengal, tukang cabut, pemalas nomor wahid, Trouble maker of the School,  atau mereka yang memang kemampuannya amat standar (beribu-ribu  maaf buat anda yang pernah duduk di jurusan budaya, ini cuma persepsi kita sebagai anak SMA waktu itu). Saya yakin ada juga sosok idealis di jurusan Budaya yang betul-betul karena dorongan nuraninya memilih jurusan itu. Cuma saya jadi berpikir, kalau stigma yang melekat di Jurusan Budaya seperti itu, apakah jurusan budaya merupakan bentuk pengenalan spesalisasi keilmuan atau ruang punishment secara mental bagi siswa. Gimana nggak keder, mendengar jurusan budaya saja bisa bikin alis berkerut.  Gimana bisa belajar tenang kalau setiap hari  yang tertanam dalam pikiran adalah rasa minder karena masuk dalam kelompok jurusan yang tidak keren.

Mungkin yang paling di ingat pada masa-masa SMA di awal 90an itu adalah tradisi “Ciek Piah Cup”  di halaman belakang. Lapangan sempit yang mungkin cuma seluas lapangan futsal itu setiap hari dijajal penggila bola sampai gundul tak berumput, dengah taruhan insert Rp 100 per pemain. Duit cepek itulah yang menjadi asal muasal nama Ciek Piah Cup tersebut. Menariknya bola yang dipakai asal-asalan, yang penting bulat dan bisa ditendang, paling sering hanya bola plastik yang ringan dan harganya cukup murah. Jarang-jarang ada bola kulit standar sepakbola itu. Aktivitas ber Ciek Piah Cup terkadang sangat mengganggu pola belajar si Gila Bola, bagi mereka yang sudah kecanduan tiada hari tanpa main bola, bahkan jam pelajaranpun mereka korbankan..tidak jarang sang Kepsek pun turun tangan memburu dan membubarkan permainan ke lapangan.  Namun, apalah daya sang kepsek yang beranjak tua itu dibandingkan kegesitan remaja SMA yang segera berlari menyelinap ke semak-semak disekitar lapangan. Yang terjadi malah seperti olok-olokan. Begitu Sang Kepsek berbalik kekantor sampil ngedumel, satu persatu mereka keluar dari semak-semak, dan Ciek Piah Cup pun berlanjut.. demikian setiap hari. Sampai saya tamat SMA pun kondisinya masih seperti itu. Herannya, para pelaku ciek piah cup yang notabene adalah mereka yang rada-rada bengal, tukang cabut bin bolos, ternyata hari ini mereka kebanyakan jadi orang-orang yang cukup sukses baik di sisi ekonomi maupun pekerjaan. Ternyata prilaku urakan, agresif, dan nekad justru menjadi modal mereka menaklukan kehidupan. Dan terbukti juga asumsi bahwa Tingkat Inteligensia dan Prestasi Akademis tidak terlalu berperan besar terhadap kesuksesan seseorang.

Tempat nongkrong semasa SMA  yang saya ingat adalah Lapau Ni Ena yang terletak di balik pagar tinggi di sebelah belakang. Warung ini lebih didominasi anak Sos karena letaknya yang memang dekat dengan lokal anak-anak Sos. Ada juga  Lapau Si Mbak yang terletak di atas kolam diseberang Jalan dekat gerbang. Untuk Cewek mereka juga punya Warung khusus disisi kiri gerbang.

SMA Negeri Padang Panjang Tahun 80an dan 90an…gerbang, suasana kelas… (Kepada pemilik foto mohon izin fotonyo ditampilkan disini  ….)

Beralih cerita,  Suasana Kota Padang Panjang di akhir 80an dan awal 90an yang paling saya ingat adalah lalu lintasnya yang masih lengang, terlebih di hari-hari biasa (bukan hari pasar). Motor, apalagi mobil yang melintas di jalanan utama hanya sesekali, Tidak seperti saat ini  yang begitu ramai, terutama oleh ojek. Saat itu rasanya main sepakbola  pun di jalan yang lebar seperti di  akan terlalu mengganggu arus lalu lintas. Kondisi pasarnya saat itu masih sangat ramai dan relatif rapi. Karena bangunan  pasar yang  baru dibangun pasca kebakaran besar bersamaan dengan terbakarnya Hotel Minang kondisinya masih kinclong. Ada suka cita dari warga Padang Panjang saat itu dengan keberadaan bangunan pasar baru yang bertingkat 2 itu. Namun seiring waktu ternyata keberadaan pasar itu tidak termanfaatkan secara maksimal, sampai saat ini masih banyak kios yang dibiarkan kosong. Bahkan hari ini tidak jarang kita temui sudut-sudut pasar itu, terutama lantai 2 menjadi tempat kencing oknum yang kurang (tidak) beradab..

Pasar Padang Panjang Tempo Doeloe

Suasana “Hari pakan” di Padang Panjang Puluhan Tahun Yang Lalu

Suasana Pasar Padang Panjang Hari ini

Suasana Arus Lalu Lintas di Padang Panjang yang ramai

Walikota Padang Panjang seingat saya sewaktu di SMP adalah Bapak Asril Saman. Sosok “Angku Palo” Padang Panjang ini mulai menjadi perhatian saya karena adanya peristiwa Tragedi Longsor Bukit Tui di pertengahan 1987. Betapa foto sang  Walikota yang bertubuh kecil itu hampir setiap hari  muncul di suratkabar terkait pemberitaan evakuasi korban dan penanggulangan bencana hebat tersebut. Peristiwa Longsornya Bukit Tui menjelang berbuka puasa tanggal 4 mei 1987 itu memang menjadi tragedi nasional saat itu. lebih kurang 152 nyawa melayang dalam peristiwa kelabu yang menimbun pemukiman penambang batu kapur di Kelurahan Tanah Hitam itu. Yang paling saya ingat dari peristiwa itu adalah begitu banyaknya cerita bergalau terutama bernuansa mistis seputaran peristiwa itu. Misalnya adanya cerita kemunculan kakek tua misterius di sekitar lokasi longsor sebelum peristiwa, mengingatkan  warga akan datangnya bencana ditempat itu, namun peringatan  kakek itu tidak di gubris. apakah itu cuma  bumbu pemanis cerita atau sesuatu yang benar terjadi hanya Tuhan yang tahu. Saya tidak ingin menelusuri cerita tersebut. Biarlah peristiwa itu menjadi bagian dari sisi kelam sejarah Kota Padang Panjang

Sebenarnya, banyak hal yang mewarnai Kota Padang Panjang tercinta ini. Namun itulah sepenggal memori yang bisa saya kumpulkan dalam konteks mengenang Padang Panjang 20 atau 25   tahun yang lalu. Saya juga mendengar betapa kondisi pergaulan remaja Padang Panjang dahulu sangat dinamis. Disudut –sudut kota ada Persatuan Pemuda Pemudi apakah itu dari Pasar Usang, Tanah Hitam, Guguk Malintang yang berlomba-lomba menunjukan eksistensinya apakah dalam bentuk kreatifitas di bidang kepemudaan, seni dan budaya. Satu yang membuat saya penasaran, ditahun 70an konon ada istilah “BAGADOS”, saya masih Blank dengan istilah itu. Apakah itu suatu perkumpulan atau apa, maklum saya nongol di pertengahan 70an jadi tidak familiar dengan istilah bagados itu. Mungkin ada diantara anda yang bisa berbagi cerita mengenai  pergaulan remaja di tahun 70an tersebut.

Menjelang peringatan Ulang Tahunnya yang ke 222 Desember 2012 nanti, banyak harapan yang tertumpang kepada Pemerintah Kota beserta segenap masyarakatnya untuk terus berkarya menjadikan kota kecil ini lebih baik lagi, terus mengarungi sejarah dengan torehan prestasi dan tak pernah kehilangan nama besarnya yang sudah disandang sejak berabad-abad lampau. Generasi sekarang berhutang kepada generasi yang akan datang dalam menjaga keharuman Padang Panjang yang telah diwarisi generasi terdahulu..

Ditulis oleh : Januardi

Iklan

20 responses to this post.

  1. Mantap DA Januardi di Rainytown1790’s, Haru wak maingek kota ko dulu nyo..,Tapi kini ?????????????????????

    Balas

    • Terima Kasih atas kunjungannya Pandeka.. Padang Panjang memang tak akan pernah tergantikan di hati kita.. Semoga pengelola Kota ini bisa lebih serius lagi mengembalikan kebesaran nama Padang Panjang

      Balas

  2. cerita ini membawa saya kembali kebeberapa tahun yang lalu di kota padang panjang…..yang merupakan kenangan yang tak terlupakan……….

    Balas

  3. Posted by salber sikumbang on Februari 9, 2013 at 12:59 pm

    terima kasih sanak membawa kita ke masa lalu di kota kita tercinta .

    Balas

  4. Posted by m.benned on Maret 22, 2013 at 8:27 am

    januardi…santiang carito wak komah…kalau buliah berbagi no hp lah wak, bia ndak silahturahmi wak ko…trimks, ben

    Balas

  5. Posted by riyu on Oktober 4, 2013 at 10:45 am

    mantap caritonyo pak awk lai malalui maso tu pak………………takana jadinyo maso lalu tu…………

    Balas

  6. Posted by andi surya on November 30, 2013 at 6:05 am

    saya bangga jadi orang padang panjang

    Balas

  7. Posted by donny tanah hitam on Januari 24, 2014 at 3:26 pm

    23tahun wak tingaan kota ko smpai kini ndak pulang..wak ingek sado nyo kisah ko sutaragon pidato miso siamin dikaria surau tmpek ambo mangaji tauhid..jlan” kabatutaba naik kreta baro..mandaki bukik tui mancari tanah liek..kota padang panjang kota tacinto..umua panjang pst ambo datangi baliek

    Balas

  8. Posted by Edi Tanjung on Maret 19, 2014 at 7:33 am

    Taragak pulang kampuang,makan miso siamin jo sate syukur,tarimo kasih da Jun,habis main bola dilapangan kantin makan makan diGumarang pakai dana Kas Sekolah ha ha ha ( Akibat ciek piah cup ),sukses padang panjang,

    Balas

  9. Posted by riri on April 1, 2014 at 6:22 am

    Sippp…
    Berarti ambo labiah “senior” (kato lain untuak “gaek”), hehe. Jaman ambo lapau mak Pa’i itu persis di pojokan SMP Ateh, dulu disitu ado janjang.
    Hebatnyo, akhir tahun lalu ambo pulang, jalan di sampiang tu kini banamo Jl. DR. Rivai…

    Balas

  10. Posted by taslim on Juli 16, 2014 at 1:59 pm

    hehehe..masih takana, ambo dulu pernah di kaja Pak Datuak di lapau sampiang SMP.

    Balas

  11. Posted by taslim on Juli 16, 2014 at 2:07 pm

    apo nan indak pernah di lupokan dari Pak Muslim di SMP dulu..?
    payuang….hahahaha

    Balas

  12. Posted by Desty Amora on Januari 16, 2015 at 11:54 am

    Mokasi pak, lah mambaok ambo ka maso2 paling indah dalam hidup ambo. Maso ambo tumbuh besar dikota yg paling tentram dan damai….( Mon bicik, Toko Rinai Padang Panjang , dizaman itu )

    Balas

  13. Reblogged this on ramadaniputri and commented:
    padang panjang tempo dulu,,

    Balas

  14. Posted by ade suryati on April 13, 2016 at 7:40 am

    Keren…. tarimo kasih caritonyoooo…..

    Balas

  15. Posted by ade oelandiny on Februari 9, 2017 at 11:26 pm

    papa city,tmpat paling nyaman dihati bersama org org yang kucintai…..

    Balas

  16. Posted by ade oelandiny on Februari 9, 2017 at 11:37 pm

    kota yang dirindukan.sepanjang hayat,menentramkan hati,masa kecil yang indah bersama org org yang dcintai,tmn dan sodara.ingin menetap dan mapan.disini….amien y rab….

    Balas

  17. Posted by aldi makmur on Februari 22, 2017 at 9:30 pm

    Tarimo kasih banyak atas tabueknyo blog nan mambuek ambo terkenang dgn kota kelahiran ambo..
    Walaupun ambo jarang pulkam.. Namun kenangan ambo di kota tercintako memang mambuek ambo taragak pulkam
    Kalau diulang carito lamo… Nan namonyo mak pa’i tu yo ndak lupo doh… Dek karano ambo mmng tingga dulu thn 1978 dakek beliau (maso sekolah du SD teladan) Memang beliau cukup dikenal maso itu dikalangan anak sekolah. Dan ado pulo ciek lai cukup dikenal dikalangan urang suko sarapan pagi… Itu lho di RSU katupek pitalah (mak pingai) maaf disebut namanya wlau beliau sdh (alm)… Pak Leman di balai.. Ini kalangan perkulineran…
    Tp kalau di kalangan orang gak waras adalagi.. Sitiak siunjin situmbok… Pokoknya Cukup indah kenangan yg nyaris terlupakan..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: